DEMONSTRASI VAKSINASI IKAN

Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Tatelu adalah salah satu unit pelaksana teknis di bidang budidaya air tawar yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan. BBAT Tatelu mempunyai tugas melaksanakan penerapan teknik perbenihan dan pembudidayaan air tawar serta pelestarian sumber daya induk/benih ikan air tawar dan lingkungan air tawar di wilayah kerjanya meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua. Dalam melaksanakan tugas, BBAT menyelenggarakan banyak fungsi diantaranya yaitu pengkajian standar pengawasan benih, pembudidayaan, serta pengendalian hama dan penyakit ikan air tawar; pengkajian standar pengendalian lingkungan dan sumber daya induk/benih ikan air tawar; dan pelaksanaan sistem jaringan laboratorium pengujian, pengawasan benih, dan pembudidayaan ikan air tawar.

Adapun aspek penting untuk menjamin kualitas produk perikanan budidaya adalah kesehatan ikan dan lingkungan. Namun sangat disayangkan, hingga saat ini masih sedikit pembudidaya ikan yang mampu memahami cara atau upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ikan dengan menggunakan vaksin. Terlebih saat ini terdapat salah satu Desa (Warat, Desa Warukapas) di Kecamatan Dimembe yang mana pembudidayanya dominan membudidayakan ikan Mas (Cyprinus carpio L), namun menemui kendala dalam menghadapi serangan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla.

Oleh karena itu, berdasarkan salah satu fungsinya yaitu pengendalian hama dan penyakit ikan air tawar dan pengendalian lingkungan dan sumber daya induk/benih, pada Rabu, 25 September 2013 BBAT Tatelu bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Propinsi Sulawesi Utara melalui Bidang Perikanan Budidaya mengadakan kegiatan “Demonstrasi Vaksinasi” dengan tujuan untuk pencegahan penyakit ikan air tawar yang sering menyerang ikan air tawar yang dilaksanakan di BBAT Tatelu. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Kasubdit Hama Penyakit Ikan Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan Perikanan Budidaya-Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ir. Mukti Sri Hastuti, Kepala BBAT Tatelu Dede Sutende, S,Pi dan Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Sulawesi Utara Ir. Sri Intan Montol. Peserta kegiatan demonstrasi vaksninasi ini sebanyak 50 orang yang berasal dari seluruh kabupaten di Propinsi Sulawesi Utara.

Gambar

Kegiatan Demonstrasi Vaksinasi di BBAT Tatelu

Menurut Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Propinsi Sulawesi Utara Ir. Sri Intan Montol, penggunaan vaksin masih kurang dipahami kelompok pembudidaya ikan, padahal vaksin adalah antigen yang dapat merangsang terbentuknya antibodi spesifik dalam tubuh dan mampu melindungi individu dari serangan penyakit yang homolog dengan jenis vaksin.

Ir. Mukti Sri Hastuti menjelaskan bahwa pengelolaan kesehatan dan lingkungan perairan budidaya ikut mendukung program Perikanan Budidaya sehingga produk budidaya akan laku dipasarkan di dalam dan di luar negeri. Selain itu produk budidaya pun akan aman untuk dikonsumsi. Diketahui hingga saat ini, jumlah penyakit penting pada ikan air tawar yang telah mampu dikendalikan yaitu Streptoccocosiasis, KHV, dan MAS (Motile Aeromonas Septicemia). Penyakit-penyakit tersebut dikarenakan dampak pemasukan ikan ke Indonesia tanpa melalui Badan Karantina Ikan. Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan Perikanan Budidaya mencanangkan Gerakan Vaksinasi Ikan (GERVIKAN) yang bertujuan untuk mengsosialisasikan penggunaan vaksin sebagai upaya pengendalian penyakit ikan yang aman, efektif dan murah.

Gambar

Pemaparan oleh Kasubdit Kesehatan Ikan dan Lingkungan, DJPB-KKP

Selanjutnya Kepala BBAT Tatelu, Dede Sutende, S.Pi menambahkan bahwa di BBAT Tatelu sudah tersedia vaksin ikan “Caprivac Aero-L” dan telah dilakukan sosialisasi GERVIKAN sejak Mei 2013 oleh Penyuluh Perikanan BBAT Tatelu. Vaksin Caprivac Aero-L ini merupakan Vasin yang berasal dari Isolat Lokal (Kerjasama PT. Caprifindo dengan Balitbang-KP) yang bertujuan khusus untuk pencegahan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia) yang sering menyerang ikan Mas, Lele, Gurami, Patin, Gurami dan Nila. Vaksinasi akan dilakukan oleh Vaksinator BBAT Tatelu tanpa dipungut biaya dari pembudidaya yang ikannya akan divaksin.

Gambar

Kepala BBAT Tatelu memberikan informasi tentang vaksin

Kemudian Moderator membuka sesi tanya jawab antara peserta demonstrasi vaksinasi dengan narasumber terkait. Penanya terdiri dari 4 orang peserta yaitu Bapak Lexy Wantania, Ibu Desi Terong (Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa), Bapak Jefry Tumimomor dan Bapak Very Senduk.  Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan meliputi, (1) Benih ikan mas yang pertumbuhannya terlambat walaupun telah 3 bulan dipelihara; (2) Ikan mas di Danau Tondano dicurigai terkena serangan Koi Herpes Virus (KHV) dan Meminta pelatihan Vaksinator untuk pegawai DKP Kabupaten Minahasa; (3) Pembudidaya membutuhkan leaflet dan brosur terkait jenis penyakit ikan air tawar beserta pengendaliannya; dan (4) Apakah vaksin ikan dapat melindungi ikan dari serangan penyakit lingkungan karena alam sekitar.

Gambar

Salah satu peserta yang mengajukan pertanyaan

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab bergantian oleh para narasumber. Adapun jawabannya adalah sebagai berikut: (1) Benih ikan yang pertumbuhannya lambat dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor genetik ikan (induk), faktor pakan (kualitas), dan faktor lingkungan (kolam). Apabila induk yang digunakan dalam pembenihan telah afkir (sudah lewat masa produktif) maka benih yang dihasilkanpun tidak akan tumbuh maksimal. Faktor pakan sangat berpengaruh buruk bagi pertumbuhan ikan apabila menggunakan pakan yang rusak atau kadaluarsa dan pakan yang kandungan proteinnya dibawah standar mutu yang ditetapkan. Faktor lingkungan (kolam) sangat berkaitan dengan teknik persiapan kolam sebelum benih ditebar. Proses persiapan kolam harus lengkap meliputi pengeringan, pengolahan tanah, pengapuran dan pemupukan. (2) Ikan mas yang dicurigai terserang penyakit KHV sebaiknya diuji kebenarannya dengan membawa sampel ikan ke Laboratorium Hama Penyakit Ikan untuk dilakukan Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mengetahui keberadaan virus pada DNA ikan sakit. Pelatihan pegawai untuk menjadi vaksinator dapat dilakukan dengan mengirim biodata peserta ke BBAP Jepara, namun biaya transportasi ditanggung peserta yang bersangkutan. (3) Leaflet dan brosur terkait jenis  penyakit ikan air tawar akan dibuat dan disebarkan kepada pembudidaya di Kabupaten Minahasa melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Minahasa. (4) Vaksin ikan merupakan antigen yang dapat merangsang terbentuknya antibodi spesifik dalam tubuh dan mampu melindungi individu dari serangan penyakit yang homolog dengan jenis vaksin. Artinya vaksin hanya mampu melindungi ikan dari bakteri spesifik yang mana sama dengan jenis vaksin yang dibuat. Misalnya Vaksin Caprivac Aero-L hanya mampu mencegah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp. Selain dari bakteri tersebut ikan akan tetap terserang penyakit, baik yang disebabkan oleh faktor patogen (parasit) maupun non patogen (faktor lingkungan).

Kegiatan selanjutnya adalah demonstrasi cara penggunaan vaksin Caprivac Aero-L yang diaplikasikan pada ikan Mas. Kegiatan ini dipraktekkan oleh Vaksinator dan Petugas Laboratorium Hama Penyakit Ikan BBAT Tatelu. Metode yang diguanakan dalam kegiatan vaksinasi ini adalah perendaman dan penyuntikan di bagian perut (Injeksi peritonial).

Gambar

Vaksin Caprivac Aero-L

Untuk perendaman, caranya adalah sebagai berikut: masukkan 30 ml vaksin Caprivac Aero-L dalam 10 Liter air dalam wadah yang diberi aerasi. Rendam benih ikan selama 15-30 menit pada larutan air yang mengandung vaksin dengan kepadatan 5-10 ekor per liter atau 100-200 gram ikan/liter, pastikan oksigen atau Aerasi berjalan dengan baik selama perendaman. (Kemasan Caprivac Aero-L 600 dosis (60 ml) dilarutkan dalam 20 liter air dan 3000 dosis (300 ml) dilarutkan dalam 100 liter air).

Untuk metode suntikkan Caprivac Aero-L pada daerah peritoneal dalam perut, dilakukan dengan dosis sebagai berikut: benih sebanyak 0,1 ml per ekor dan ikan dewasa sebanyak 0,2 – 0,4 ml per kg berat badan. Pastikan kedalaman jarum suntik tidak menusuk pada organ dalam ikan yang akan divaksinasi. Bila diperlukan, sebelum divaksin ikan dapat dibius dahulu untuk mengurangi stress saat penyuntikan vaksin.

Gambar

Demonstrasi cara vaksinasi ikan

Menurut vaksinator kegiatan vaksinasi ikan dapat dilakukan sebanyak 2 tahap, yakni tahap awal yang mana vaksin akan beradaptasi dengan tubuh ikan yang bertahan 2-3 bulan dan tahap kedua (booster) yang akan bertahan 4-5 bulan. Kegiatan vaksninasi ini masih akan terus dilaksanakan bekerjasama dengan penyuluh perikanan, BBAT Tatelu Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten dan Propinsi serta pihak-pihak terkait lainnya.

Gambar

Foto bersama narasumber dan peserta kegiatan

Oleh: Ni Putu DK (Penyuluh Perikanan di BBAT Tatelu)

Diseminasi Teknologi Budidaya Ikan Air Tawar

Salah satu permasalahan pelaku utama dalam rangka meningkatkan produktifitas usahanya adalah lemahnya pengetahuan mereka mengenai teknologi baru. Sedangkan di sisi lain Balai riset/ balai pengembangan teknologi perikanan terus mengembangkan dan menghasilkan paket-paket teknologi. Tidak sampainya teknologi baru kepada pelaku utama diakibatkan lemahnya proses diseminasi teknologi ditingkat pelaku utama. Penyuluh perikanan yang bertugas sebagai fasilitator dan mediator serta ujung tombak dilapangan dituntut mampu menjadi perantara antara sumber teknologi dengan pelaku utama sehingga proses diseminasi teknologi mampu menyebar dikalangan pelaku utama. Dalam kegiatan penyuluhan perikanan materi teknologi yang akan didesiminasikan kepada pelaku utama dan pelaku lapang harus mendapat rekomendasi dari lembaga pemerintah. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan suatu metode penyuluhan perikanan untuk memfasilitasi terselenggaranya desiminasi teknologi dari balai riset/balai pengembangan teknologi perikanan kepada pelaku utama dan pelaku lapang perikanan.

Diseminasi adalah salah satu kegiatan Balai dalam rangka menyebarluaskan hasil rekayasa teknologi budidaya air tawar berupa pelatihan bagi petugas BBI Sentral, BBI, UPR, pembudidaya ikan, dan Pegawai/ Staf teknis perikanan tingkat pusat dan daerah. Kegiatan diseminasi merupakan salah satu kegiatan yang merupakan rangkaian kegiatan BBAT Tatelu yang sebelumnya dimulai dari kegiatan perekayasaan dan uji coba produksi di lapangan. Kegiatan diseminasi teknologi dimaksudkan sebagai upaya menyebarluaskan teknologi hasil-hasil perekayasaan budidaya perikanan kepada masyarakat pengguna, sehingga pada akhirnya diharapkan akan berdampak ke arah peningkatan kemampuan dan peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat. Selain itu untuk menginformasikan inovasi teknologi kelautan dan perikanan hasil penelitian dan teknologi spesifik lokasi hasil percontohan yang telah direkomendasi.

Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Tatelu merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dengan wilayah kerja meliputi seluruh Indonesia Timur, meliputi Sulawesi, Ambon, Maluku, dan Papua. Banyaknya daerah-daerah yang mempunyai prospek pengembangan budidaya perikanan khususnya perikanan air tawar mendorong BBAT Tatelu untuk membantu mengembangkan potensi perikanan budidaya tersebut agar masyarakat dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraannya. Tugas dan fungsi BBAT berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.09/MEN/2006 adalah melaksanakan penerapan teknik perbenihan dan pembudidayaan ikan air tawar serta pelestarian sumberdaya induk/benih ikan air tawar dan lingkungan air tawar. Hasilnya diharapkan dapat membantu para petani dalam upaya peningkatan produksi perikanan air tawar.

Berdasarkan hal tersebut diatas, BBAT Tatelu melaksanakan kegiatan Diseminasi Teknologi Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar dengan mengundang Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa Utara Ir. Arie Kambong, M.Si, Kepala Bidang Budidaya KP Minahasa Utara Ir. Leopold Dumanau, M.Si, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Dimembe, Jophie V. Santi, SP serta Kepala Desa Bapak Charles Pepah. Adapun peserta kegiatan ini adalah 45 orang yang terdiri dari anggota Pokdakan yang berada di Kabupaten Minahasa Utara. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 02 Juli 2013 dari Pukul 09.00 – 14.00 WITA di Ruang Display BBAT Tatelu.

Peserta diseminasi

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala BBAT Tatelu, yaitu Bapak Dede Sutende, S.Pi. Dalam pemaparan beliau menyampaikan bahwa melalui kegiatan diseminasi dan bimbingan teknis ini Balai Budidaya Air Tawar Tatelu menyebarluaskan hasil rekayasa teknologi budidaya perikanan meliputi budidaya ikan, budidaya lobster air tawar, budidaya cacing tubifex, dan produksi pakan murah. Selain itu juga untuk sosialisasi tentang penerapan cara budidaya (CBIB) atau pembenihan ikan yang baik (CPIB). Dari hasil kegiatan diseminasi dan bimbingan teknis ini diharapkan dapat teradopsinya teknologi hasil perkayasaan tentang budidaya perikanan air tawar sehingga akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan juga dapat menerapkan cara budidaya ikan dan pembenihan ikan atau udang yang baik yang pada akhirnya berhak mendapatkan setifikat CBIB atau CPIB setelah dilakukan sertifikasi.

Sambutan Kepala BBAT Tatelu

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa Utara, Ir. Arie Kambong, M.Si menyambut baik kegiatan diseminasi teknologi perikanan budidaya ikan air tawar ini. Disampaikan informasi bahwa budidaya ikan nila dan ikan mas di Kabupaten Minahasa Utara berkembang dengan pesat dan menjadi mata pencaharian utama para pembudidaya ikan di beberapa kecamatan. Beliau menyarankan agar pembudidaya lebih banyak memproduksi ikan air tawar yang lebih laku dipasaran seperti ikan nila dan ikan mas. Disampaikan juga potensi komoditas ikan lainnya antara lain ikan gurame dan ikan lele yang akhir-akhir ini baru mulai digalakkan pembudidayaannya. Beliau juga menyambut baik kegiatan penyuluhan untuk mengembangkan SDM perikanan dalam hal ini adalah pelaku utama dan pelaku usaha di Kabupaten Minahasa Utara dan menyampaikan apresiasi atas inisiasi kegiatan kerja sama kemitraan penyuluhan yang telah dilaksanakan dengan Badan Penyuluhan. Pada akhir sambutan disampaikan ucapan terima kasih kepada BBAT Tatelu atas peran serta BBAT Tatelu dalam memberikan informasi teknologi budidaya dan mengharapkan kegiatan sejenis dapat terus dilanjutkan.

Sambutan Kadis KP Minahasa Utara

Adapun materi yang disampaikan pada kegiatan diseminasi ini adalah Teknologi Budidaya Ikan Nila di Kolam oleh Hanry J.W Tambani, S.Pi, Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) oleh Ir. Danny M. Rimper, M. Si dan Pengendalian Hama Penyakit Ikan oleh Syauqy Hidayah, S.Pi. Narasumber yang menyampaikan materi tersebut adalah pegawai BBAT Tatelu yang berkompeten dibidangnya. Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) merupakan sebuah konsep bagaimana memelihara ikan, agar ikan yang kita pelihara nantinya memiliki kualitas yang baik dan meningkatkan daya saing produk, yaitu bebas kontaminasi bahan kimia maupun biologi dan aman untuk dikonsumsi. Disamping itu konsep CBIB juga menolong kita agar dalam proses pemeliharaan ikan menjadi lebih efektif, efisien, memperkecil resiko kegagalan, meningkatkan kepercayaan pelangggan, menjamin kesempatan eksport dan ramah lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Selain itu juga dijelaskan teknologi budidaya ikan nila sesuai CBIB. Hal itu meliputi pemilihan lokasi budidaya, pemilihan induk dan benih, manajemen pakan dan air serta pengendalian hama penyakit. Upaya pencegahan hama dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan organik dalam kolam, sedangkan pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pemberian vitamin C dan Vaksinasi pada ikan.

Pemberian materi

Selain itu BBAT Tatelu juga telah berhasil melakukan pembinaan dan bimbingan teknis produksi benih ikan nila dan ikan mas pada beberapa UPR yang berada di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Bolmong, Kotamubagu, Ternate, dan Papua. Sehingga dari hasil kegiatan ini UPR tersebut mampu menghasilkan benih dan mampu untuk mencukupi kebutuhan benih daerah perikanan budidaya ikan air tawar disekitarnya. Dengan semakin mudahnya masyarakat sekitar memperoleh benih ikan, maka pembudidaya ikan semakin terbantu karena biaya untuk mendatangkan benih bisa dikurangi untuk biaya produksi yang lain. Dan dengan hadirnya balai benih yang sudah mampu berproduksi dengan lancar maka akan terbentuk suatu kawasan budidaya ikan yang terpadu dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, serta upaya pembangunan kawasan minapolitan dapat terwujud.

Meskipun diseminasi hanya diterima oleh sebagian masyarakat pembudidaya, namun yang lebih penting adalah masyarakat yang telah berhasil mengadopsi hasil diseminasi ini dapat menularkannya atau menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat yang lain sehingga dapat terwujud efek domino pada hal pengembangan budidaya perikanan sehingga pada akhirnya kesejahteraan masyarakat dapat terangkat.

Diharapkan setelah kegiatan ini berakhir, dapat terinformasikannya inovasi teknologi (hasil penelitian dan hasil percontohan yang telah direkomendasi), diperolehnya umpan balik penerapan inovasi teknologi rekomendasi untuk perencanaan dan penyempurnan kegiatan perekayasaan dan percontohan dari pelaku utama (pembudidaya ikan), terjalinnya hubungan kerja yang sinergis antara BBAT Tatelu, Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Penyuluhan, penyuluh dan pelaku utama perikanan (pembudidaya ikan), serta meningkatnya peran penyuluh sebagai mediator dan fasilitator.

^NDK^